4.1Titik panas
Deteksi satelit, bukan laporan kebakaran dari lapangan.
YANG KAMI AMBIL
Setiap deteksi panas di kotak 94°–142° BT dan 12° LS–7° LU: koordinat, waktu satelit lewat, tingkat keyakinan sensor, dan kekuatan pancaran panas (FRP).
CARA KAMI MENGOLAH
- Hanya satu satelit yang dihitung, NOAA-20. Dua satelit melihat api yang sama, jadi menjumlahkannya berarti menghitung dua kali.
- Hitungan memakai 24 jam terakhir yang berakhir pada deteksi terbaru, sehingga selalu memuat lintasan siang dan malam.
- Titik di luar batas kota dan kabupaten Indonesia tidak dihitung. Tiap titik masuk tepat satu wilayah, jadi jumlah wilayah sama dengan jumlah nasional.
- Keyakinan mengikuti kelas sensor: rendah, sedang, tinggi. Kekuatan dibagi tiga dari FRP: di bawah 5 MW, 5 sampai di bawah 25 MW, dan 25 MW ke atas.
- Deteksi yang sama tidak disimpan dua kali: identitasnya dibuat dari satelit, waktu, dan koordinat.
KETELITIAN DAN BATASNYA
- Satu titik mewakili satu piksel sekitar 375 meter, bukan lokasi api yang persis. Satu kebakaran besar bisa menjadi banyak titik.
- Titik panas belum tentu kebakaran: cerobong, pembakaran sawah, atau atap panas juga bisa terdeteksi.
- Awan dan asap tebal menutupi api dari satelit. Tidak ada titik panas tidak berarti tidak ada api.
- Satelit lewat sekitar tiap 12 jam, siang dan malam. NASA menyediakan datanya kurang lebih tiga jam setelah lintasan.
- Saat kami cocokkan dengan baris NOAA-20 di SiPongi, selisih jumlah nasionalnya di bawah 1%. Selisih itu wajar karena garis batas wilayah yang dipakai tidak persis sama.
Lisensi. Data NASA terbuka untuk dipakai ulang dengan mencantumkan NASA LANCE FIRMS.