© OpenStreetMap
Dari 7 Oktober 2026 sampai 13 Oktober 2026, BMKG mencatat 317 gempa di Indonesia dan sekitarnya. Rata-ratanya satu gempa tiap 32 menit. Hanya 28 di antaranya yang dilaporkan terasa oleh warga. Yang terkuat bermagnitudo 5,8, 230 km barat laut Tahuna, Kep. Sangihe, Sulut, pada 8 Oktober 2026.
Kenapa Indonesia sering gempa?
Menurut BMKG, Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng besar bumi: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Lempeng-lempeng ini terus bergerak dan saling menekan. Saat tekanan itu lepas, terjadilah gempa. Karena itu gempa di Indonesia bukan hal langka, melainkan kejadian sehari-hari yang kebanyakan tidak terasa.
Penjelasan umum dari BMKG, bukan hitungan dari data kami.
Apa itu magnitudo?
Magnitudo mengukur energi yang dilepas gempa di pusatnya. Naik satu angka berarti energinya sekitar 32 kali lebih besar. Jadi gempa M 6 melepas energi sekitar 32 kali gempa M 5, dan sekitar 1.000 kali gempa M 4.
Penjelasan umum dari USGS.
Gempa minggu ini menurut magnitudonya:
| Magnitudo | Jumlah | Biasanya terasa seperti |
|---|---|---|
| di bawah 4 | 249 | Jarang terasa, atau hanya getaran singkat. |
| 4 – 4,9 | 63 | Terasa jelas. Jendela dan benda gantung bergoyang. |
| 5 – 5,9 | 5 | Guncangan kuat. Bangunan yang lemah bisa retak. |
| 6 ke atas | 0 | Bisa merusak bangunan di wilayah luas. |
Yang dirasakan orang juga bergantung pada kedalaman dan jarak. 270 dari 317 gempa minggu ini dangkal, kurang dari 60 km di bawah permukaan. Gempa dangkal paling terasa di atas pusatnya.
Fakta dari catatan panjang
- Gempa terbesar yang tercatat di Indonesia bermagnitudo 9,1, pada 26 Desember 2004. Pusatnya di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh. Tsunaminya menerjang pesisir Provinsi Aceh, termasuk Kota Banda Aceh.
- Sejak 1900 tercatat 439 gempa bermagnitudo 6,5 ke atas di Indonesia dan sekitarnya, rata-rata 3,5 gempa tiap tahun.
- Yang terkuat sepanjang 2026 sejauh ini bermagnitudo 7,7, 30 km timur laut Mbay, Nagekeo, NTT, pada 15 Agustus 2026.
Catatan lama dari katalog USGS, catatan terbaru dari BMKG. Catatan awal abad ke-20 belum selengkap sekarang, jadi jumlah sebenarnya bisa lebih banyak.
Apa yang terjadi pada 26 Desember 2004?
Gempa itu memicu tsunami. Menurut BNPB, gelombang setinggi sekitar 30 meter tiba kira-kira 10 menit setelah gempa. Lebih dari 167.000 orang meninggal di Indonesia (USGS), dan lebih dari 230.000 orang meninggal atau hilang di negara-negara sekitar Samudra Hindia (BNPB).
Sepuluh menit itu sebabnya. Bila berada di pantai saat gempa, segera menjauh ke tempat yang lebih tinggi tanpa menunggu sirene, terutama bila air laut tiba-tiba surut. Menurut BMKG, air laut yang surut tiba-tiba adalah salah satu tanda awal tsunami.
Siapkan sebelum gempa
Gempa belum bisa diramalkan. Yang bisa disiapkan adalah cara kita menghadapinya. BNPB menganjurkan tas siaga bencana yang cukup untuk tiga hari:
- Dokumen penting dalam satu wadah kedap air: akta kelahiran, sertifikat tanah atau rumah, ijazah, dan dokumen asuransi.
- Sedikit uang tunai.
- Air minum, makanan tahan lama, dan pakaian ganti.
- Obat-obatan pribadi dan kotak P3K.
- Senter, peluit, dan radio atau ponsel dengan baterai cadangan.
Dari Buku Saku Menghadapi Bencana, BNPB.
Apa yang dilakukan saat dan sesudah gempa?
Menurut BMKG, saat gempa terjadi:
- Di dalam bangunan: Lindungi kepala dan badan Anda dari reruntuhan bangunan.
- Di luar bangunan atau area terbuka: Menghindari dari bangunan yang ada di sekitar Anda.
- Di pantai: Jauhi pantai untuk menghindari terjadinya tsunami.
- Di daerah pegunungan: Hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.
Setelah gempa:
- Keluar dari bangunan tersebut dengan tertib.
- Jangan menggunakan tangga berjalan atau lift, gunakan tangga biasa.
- Jangan memasuki bangunan yang sudah terjadi gempa: bangunan itu rawan mengalami keruntuhan.
- Gempa susulan masih mungkin terjadi di sekitar daerah gempa.
Artikel ini merangkum catatan BMKG dan katalog USGS. Ini bukan peringatan dini dan bukan prakiraan gempa. Untuk informasi resmi, ikuti BMKG.
Sesar Lembang, Bandung · Fresno, USA / Wikimedia Commons · CC BY 2.0